Jumat, Desember 2, 2022
Beranda Penulis Dikirim oleh Andri Nazaruddin

Andri Nazaruddin

26 KIRIMAN 0 KOMENTAR

Problem Implementasi Taqwa

Bulan suci Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an, juga bulan yang didalamnya dilaksanakan sebuah ibadah sebagai bagian dari Rukun Islam yaitu berpuasa.  Al Qur’an diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan (walaupun 5 ayat dari surat Al ‘Alaq), menamakan dirinya sebagai “petunjuk bagi manusia” (hudan li al-nas) dalam surat Al Baqarah [2] ayat 185. Kepada siapa Al Qur’an diturunkan, tentunya untuk mahluk Tuhan yang dinamakan manusia. Alquran menurut Manna’ Khalil al Qattan adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada baginda Nabi Muhammad saw, yang didalamnya terdapat unsur mukjizat serta mengandung unsur tahaddi, dan yang membacanya merupakan ibadah. Serta menjadi pedoman dan referensi bagi seluruh manusia. Demikian definisi Al Qur’an menurut salah satu Ulama Intelektual muslim ternama.

Puasa di dalam Al Qur’an, target optimal bagi manusia adalah menggapai taqwa. Sebagaimana disebutkan  “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,”QS Al- Baqarah [2] ayat 183. Secara definisi arti taqwa memang hanya terdiri dari beberapa kalimat saja, tetapi pada tataran impelementasi, arti taqwa tidak sesederhana yang kita bayangkan, taqwa merupakan sebuah kompleksitas dari seluruh tindakan dan amal perbuatan seseorang dalam beribadah kepada Allah SWT., (Achmad Rozi el Eroy, 2019).

Taqwa adalah salah satu hasil  iman yang tulus dan otentik (Ahmad Syafii Maarif, 2017). Titik sentralnya adalah kepada Yang Maha Kuasa Allah SWT. Di dalam Al Qur’an sendiri lebih dari 2.500 kali disebutkan. Didalamnya disebutkan bahwa eksistensi Tuhan benar-benar fungsional – Dia adalah Sang Maha Pencipta, Pemelihara alam semesta dan isinya, terutama Dia sebagai Petunjuk kepada manusia dan yang akan menbgadili manusia nanti dengan penuh keadilan dan belas kasih (Fazlur Rahman, 1979).

Tuhan sejak awal selalu memberi kabar baik dan peringatan kepada manusia tentang hak dan kewajibannya. Nikmat yang diberikan Tuhan yang tak terhingga banyaknya merupakan sebuah hak bagi umat manusia. Adapun beribadah kepadaNya adalah sebuah kewajiban bagi umat manusia pula. Tetapi muncul sebuah problematika yang dihadapi manusia pada perkembangan selanjutnya. Manusia tergoda terhadap hal-hal yang dilarang oleh Yang Maha Kuasa. Sejarah kemanusiaan (Adam AS dan keluarga kecilnya) sejak  diciptakan oleh Tuhan kehidupan umat manusia penuh godaan.

Godaan ini salahsatunya menjadi pemicu munculnya problem implementasi taqwa pada TuhanNya. Tentunya sangat berpengaruh pada kondisi internal jiwa kemanusiannya untuk selalu istiqomah dalam menggapai taqwa. Berbagai media untuk menggapai taqwa sejalan beriringan dengan godaan untuk berbuat dosa. Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha, yakni maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya (QS. As-Syams [91] ayat 8). Manusia jatuh pada dua pilihan ini, oleh karena itu manusia harus selalu ikhtiar dan memilih untuk tidak melanggar aturan-aturan yang telah Allah SWT., tentukan.

Bulan Ramadhan tahun ini mari kita jadikan media pembelajaran efektif untuk membulatkan niat ibadah dengan sungguh-sungguh yang selama ini mendapat gangguan dalam mengimplementasikan bentuk ketaqwaan kepada Sang Maha Pencipta. Mandatory Ramadhan adalah panen pahala yang berlipat ganda. Fungsionalitas Tuhan Allah Yang Maha Bijaksana begitu sangat nyata, dengan otoritasNya. Sebagaimana disabdakan Nabi, “Likulli hasanatin bi’asyri amtsalihim sab’u miah dhi’fun illas shaum, fainnahu li wa ana ajzi bihi” (Setiap amal kebajikan dibalas dengan 10 sampai 700 pahala, kecuali puasa “untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya” -dengan mengutip kata Tuhan). Wallahu a’lam bi al-shawab*. Penulis H. Nana Supriatna Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Pangandaran

Makna di Balik Perintah Puasa

Bulan suci Ramdhan telah tiba kepada kita dengan membawa kabar gembira dan kebaikan. Di bulan ini, jiwa kita siap untuk disucikan dan dibersihkan. Hawa nafsu yang selama ini memperbudak kita selama bertahun-tahun melalui keinginan dan ambisinya, seringkali kita tidak mampu lepas dari kendalinya. Maka tibalah bulan suci Ramdhan sebagai sarana untuk melatih diri mengendalikan hawa nafsu. Yaitu menahan diri dari makan, minum dan segala hal yang dapat membatalkan dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.

Makan dan minum merupakan kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia untuk tetap bertahan hidup. Kemudian datang sebuah perintah untuk berpuasa, menahan diri dari makan dan minum yang mana keduanya merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Kebutuhan primer harus dipenuhi agar agar manusia dapat bertahan hidup. Jika kebutuhan tersebut tidak dipenuhi maka akan mengancam nyawa manusia. Ketika Allah turunkan sebuah perintah untuk berpuasa, perintah tersebut memiliki makna berupa sindiran yang seakan-akan  ditunjukkan kepada diri kita, “Wahai hawa nafsu, kamu mampu meninggalkan makan dan minum yang mana keduanya dibutuhkan agar tetap bertahan hidup. Kemudian kamu beralasan bahwa kamu tidak mampu melaksanakan perintah Allah yang mana perintah itu tidak sama sekali mengancam jiwa, justru perintah tersebut sesuai dengan fitrah manusia”. Terdapat  pelajaran (dars) yang dapat diambil dari perintah Allah SWT untuk berpuasa, bahwa pada hakikatnya manusia mampu melaksanakan perintah Allah secara utuh (kaffah). Sebuah pelajaran yang dapat membangunkan hati manusia dari kelalaian atas perintah Allah, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak melaksanakan perintah Allah SWT.

Bulan suci Ramdhan merupakan anugerah bagi kita selaku umat nabi Muhammad SAW. Sejak  dimulainya bulan puasa, hati kita dituntun untuk terbebas dari hijab. Yaitu kegelapan yang menyelimuti hati sebagai penyebab terhalangnya cahaya yang masuk ke dalam hati. Hijab yang dimaksudkan adalah maksiat yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya upaya taubat (kembali kepada Allah). Yaitu maksiat yang kaitannya dengan manusia, seperti sombong, dengki, marah dan lainnya. Kegelapan ini lah yang kerap menyelimuti hati manusia. Maka datanglah bulan suci Ramdhan sebagai sarana untuk membersihkan hati kita dari penyakit-penyakit tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali:

وأن مقصوده تصفية القلب وتفريغ الهم لله عز وجل

 “Dan tujuan puasa adalah membersihkan hati serta berserah diri kepada Allah”

Penulis Ust. Ahmad Kholiludin, MH (Pengajar pada Pondok Pesantren Al-Furqon Cimerak Pangandaran)

Waduh, Masa Tunggu Keberangkatan Haji di Pangandaran Capai 18 Tahun

Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama Kab. Pangandaran, Dr. H. Ujang Sutaryat, M.Ag saat mengikuti rapat kerja rencana strategis Kemenag Pangandaran Tahun 2020 -2024 di Uni Becah Hotel Pangandaran, Kamis (2/10/2020).*/Foto: Humas Kemenag Pangandaran

Cijulang Redaksi Tadkiroh.com — Animo masyarakat Pangandaran untuk melaksanakan ibadah rukun Islam kelima cukup tinggi, dari data yang diambil dari Sistim Informasi Haji (Siskohat) hingga 7 Oktober 2020 tercatat sudah ada 423 orang yang medaftar.

Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kemenag Kab. Pangandaran, H. Ujang Sutaryat menyebut jumlah pendaftar dari tahun ke tahunnya terus meningkat, bahkan waithing list masa tunggu keberangkatan haji capai 18 tahun.

“Semenjak Kemenag Pangandaran berdiri terutama setelah Kemenag Pangandaran menerima pendaftaran langsung trennya meningkat, bahkan Kab. Pangandaran merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang animo pendaftarannya cukup tinggi. Kalau kita ambil prosentase tahun sebelumnya rata-rata setiap tahunnya tidak kurang sekitar 1000 orang,”

“Jumlah masyarakat Pangandaran yang masuk daftar antrian haji sudah mencapai sekitar 6.715 orang pada Rabu 7 Oktober 2020,” ungkap Ujang di ruang kerjanya, Selasa (6/10).

Terkait lamanya antrian keberangkatan haji, menurutnya karena animo masyarakat cukup tinggi.

“Masa Tunggu Keberangkatan ibadah haji tiap tahunnya akan terus meningkat, bisa kita bayangkan setiap tahunnya tidak kurang dari 1000 pendaftar sedangkan yang diberangkatkan per tahunnya 379 (quota haji Kab. Pangandaran),” jelasnya.

Ia berharap kedepam ada penambahan quota untuk Kab. Pangandaran, dengan adanya penambahan quota tersbut diharapkan dapat mengurangi waithing list keberangkatan ibadah haji.

Untuk mengetahui perkiraan kapan berangkat, calon jamaah haji dapat dipantau secara online melalui fasilitas yang telah diberikan Kementerian Agama.

“Untuk mengecek estimasi keberangkatan sebetulnya tidak usah ke Kantor Kemenag, sekarang sudah ada aplikasi Haji Pintar di dwonload saja di aplikasi Play Store dan nanti ada menu estimasi keberangkatan tinggal dimasukan nomor porsi maka akan keluar nama pendaftar, nomor urut keberapa dan berangkat tahun berapa,” jelas pria bergelar Doktor dibidang Hukum Islam dari UIN SGD Bandung. (Andri)

Kemenag Pangandaran Dorong UMKM Miliki Sertifikat Halal

Cijulang (Tadzkiroh.com) — Kementerian Agama Kab. Pangandaran mendorong para pengusaha makanan dan minuman (UMKM) di Pangandaran untuk memiliki sertifikat halal, label halal pada setiap produk makanan dan minuman perlu mendapat perhatian guna memastikan kenyamanan masyarakat khususnya umat Islam.

“Para pengusaha harus memahami pentingnya sertikasi halal pada setiap produk makanan guna memastikan keamanan dan kenyamanan umat Islam,” kata Kepala Kemenag Kab. Pangandaran H. Cece Hidayat saat ditemui Humas, Rabu (02/08).

Diakui Cece, sosialisasi proses sertifikasi halal menurutnya hanya sebatas pada media sosial belum pernah disosialisasikan langsung kepada para pelaku usaha UMKM karena keterbatasan anggaran.

“Memang kita belum melakukan sosialisasi, tapi langkah-langkah sosialisasi melalui KUA dan pihak terkait sudah kami lakukan. InsyaAllah tahun 2021 akan diprioritaskan,” ujarnya.

“Kita juga perlu kerja sama dengan pihak terkait, agar mereka juga bisa memahami bagaimana pentingnya sertifikat halal bagi para pelaku UMKM,” imbuhnya.

Ia juga mengeluhkan belum adanya rumah potong hewan (RTH)resmi dan telah memiliki iji di Pangandaran yang bersertifikasi halal, oleh karenanya, Kemenag akan bekerja sama dengan pemerintah setempat.

“Saat ini di Pangandaran beum memiliki RTH yang resmi, sekarang ini para pedagang memotong hewannya dilakukan di rumahnya masing-masing dan inilah yang harus kita antisipasi terutama RTH sapi,” tuturnya.

Ia juga meminta Humas terlibat aktif dan ikut serta mengkampayekan dan mensosialisasikan pengunaan produk halal kepada masyarakat melalui media yang ada.

“Humas harus mengajak masyarakat lebih kritis pada setiap produk makanan minuman. Ini perlu digaungkan dan dikampayekan pada masyarakat bahwa kita ini harus menggunakan dan mengkonsumsi produk-produk halal,” ujarnya.

Dikutip dari LPPOM MUI secara umum Prosedur Sertifikasi Halal yaitu, pertama perusahaan yang mengajukan sertifikasi, baik pendaftaran baru, pengembangan (produk/fasilitas) dan perpanjangan, harus melakukan pendaftaran secara online. melalui website LPPOM MUI : www.e-lppommui.org.

Kedua mengisi data pendaftaran, selanjutnya membayar biaya pendaftaran dan biaya akad sertifikasi halal melalui Bendahara LPPOM MUI di email : bendaharalppom@halalmui.org.
Untuk komponen biaya akad sertifikasi halal mencakup : Honor audit, Biaya sertifikat halal, Biaya penilaian implementasi SJH biaya tersebut di luar transportasi dan akomodasi yang ditanggung perusahaan.

Ketiga mengisi dokumen yang dipersyaratkan dalam proses pendaftaran sesuai dengan status pendaftaran (baru/pengembangan/perpanjangan) dan proses bisnis (industri pengolahan, RPH, restoran, dan industri jasa), di antaranya : Manual SJH, Diagram alir proses produksi, data pabrik, data produk, data bahan dan dokumen bahan yang digunakan, serta data matrix produk.

Terakhir setelah selesai mengisi dokumen yang dipersyaratkan, maka tahap selanjutnya pemeriksaan kecukupan dokumen Penerbitan Sertifikat Halal. (Andri Nazaruddin)

Kemenag Pangandaran Buka Rekruitmen Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji

Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Kab. Pangandaran Dr. H. Ujang Sutaryat, M.Ag*/Foto: Dok. Humas Kemenag Pangandaran

Cijulang (INMAS Pangandaran) — Kementerian Agama Kabupaten Pangandaran membuka rekruitmen calon peserta sertifikasi pembimbing manasik haji.

Kepala Seksi Urusan Haji dan Umrah Kankemenag Kab. Pangandaran, H. Ujang Sutaryat menjelaskan bahwa sertifikasi pembimbing manasik ini dapat diikuti oleh ASN di lingkungan Kemenag Pangandaran yaitu JFU, JFT, Penyuluh Agama, Kepala KUA dan unsur Ormas Islam.

“Sertifikasi ini dilaksanakan untuk menciptakan orang-orang yang professional dalam hal bimbingan manasik haji, baik yang dilaksanakan oleh KBIHU ataupun pemerintah di Kecamatan dan Kabupaten,” tuturnya saat ditemui Humas, Jumat (28/08).

“Ke depannya akan dipersyaratkan orang-orang yang telah bersertifikat sebagai pembimbing manasik haji, dan sekarang sudah banyak yang sudah mempunyai sertifikasi,” imbuhnya.

Menurut H. Ujang rekruitmen kali ini akan melibatkan Universitas Islam Negeri di Jawa Barat. “Untuk tahun ini InsyaAllah akan dilaksanakan dalan 3 angkatan, yang bekerjasama dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Alhamdulillah untuk Pangandaran kuotanya sekarang cukup banyak, ada 6 orang,” jelasnya.

Kemenag Kab Pangandaran melalui surat resmi Nomor : B- 456/Kk.10.27/IV/Hj.00/08/2020 tertanggal 28 Agustus 2020 tentang rekruitmen calon peserta sertifikasi pembimbing manasik haji disebutkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi calon peserta, di antaranya jujur, bertanggung jawab, berakhlak mulia, memiliki dedikasi dan rasa nasionalisme, berusia 30 s.d 50 tahun yang dihitung mulai berlangsung kegiatan sertifikasi.

Sedangkan untuk kualifikasi pendidikan, pendidikan calon pendaftar minimal S1/sederajat, dan pernah melakukan ibadah haji, pernah menjadi pendamping maksimal 2 (dua) tahun, serta mampu berkomunikasi Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

Ada juga ketentuan khusus, yakni calon pendaftar harus memprint out pendaftaran online, surat permohonan menjadi peserta sertifikasi, rekomendasi dari pimpinan, pernyataan pernah menjadi pembimbing manasik haji dan portofolio.

Calon peserta juga diminta mengumpulkan SK terakhir sebagai ASN/Pengurus, fotocopy ijazah terakhir (minimal S1/sederajat), fotocopy KTP dan KK, fotocopy visa haji/ surat keterangan dari Kepala Kankemenag atau bukti sah lainnya yang menunjukan pernah melaksanakan ibadah haji, foto berwarna latar belakang merah 3×4 sebanyak 2 lembar, dan surat keterangan sehat dari dokter pemerintah.

Pendaftaran untuk peserta sertifikasi pembimbing manasik ibadah haji Ini dibuka mulai 3 s.d 6 September 2020. Pendaftaran dilakukan secara online melalui situs http://sertifikasi.hajijabar.info

4 KBIHU di Pangandaran Mendapat Apresiasi, Keterbukaan Informasi Menjadi Hal Terpenting

Padaherang-Redaksi Tadzkiroh.com – Ketua Tim Akreditasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, H. Jajang Apipudin mengapresiasi komitmen KBIHU di Pangandaran dalam mengelola dan menyajikan layanan keterbukaan informasi publik.

“Terkait akreditasi KBIHU yang dilaksanakan tim asesor dari Kanwil dan UIN Bandung, kami atas nama ketua mengapresiasi 4 KBIHU yang ada di Pangandaran karena telah memiliki website,” ucap H. Jajang yang juga menjabat sebagai Kasi Pembinaan Haji dan Umroh Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, saat di konfirmasi melalui sambungan telepon, Senin (24/8).

Ia menyebut apa yang dilakukan KBIHU di Kabupaten Pangandaran telah menunjukkan komitmennya dalam memberikan keterbukaan informasi seputar ibadah haji dan umroh kepada masyarakat di Pangandaran.

Menurut dia, keseriusan KBIHU telah dibuktikan dengan ketersediaan layanan informasi, seperti website yang di dalamnya terdapat konten informasi seputar ibadah haji dan umroh, pembinaan bagi jamaah sampai dengan video manasik haji yang akan mudah diakses oleh seluruh jamaah.

Ia menambahkan bahwa, sebelumnya Kanwil Kemenag Jabar melalui Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umroh telah mendorong KBIHU di Jawa Barat memiliki website, hal itu penting sebagai media informasi yang mengedukasi masyarakat utamanya seputar ibadah haji

“Dari tahun kemarin KBIHU di Jawa Barat sudah kita mulai dianjurkan untuk memiliki website masing-masing. Namun dari beberapa kota yang ada di Jabar Alhamdulilah di Pangandaran semuanya sudah memiliki website,” ungkapnya.

Saat dikonfirmasi mengenai hasil akreditasi KBIHU dirinya belum bisa mempublikasikan pasalnya masih ada daerah kabupaten/kota lain yang dijadwalkan akan diakreditasi.

“Ada satu proses lagi yang akan kita lalui, dan masih ada beberapa KBIHU di daerah lain yang akan diakreditasi. Mudah-mudahan dalam jangka waktu 1 s.d. 2 minggu ke depan bisa dipublikasi,” tutupnya.

Akreditasi dilakukan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat dengan melibatkan akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung sebagai Tim asesor.

Kepala Seksi Urusan Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama Kab. Pangandaran H. Ujang Sutaryat menjelaskan, akreditasi sangat diperlukan untuk menentukan kualitas KBIHU yang akan memberikan pelayanan bimbingan manasik haji dan umroh kepada jemaahnya.

“Tentu akan berpengaruh besar ya terhadap KBIHU itu sendiri, dan akan bergaris lurus dengan pelayanan nantinya,” ucap H. Ujang dalam keterangannya, Senin (24/08).

Lebih lanjut menurutnya, tugas pemerintah untuk memastikan bahwa pelayanan KBIHU benar-benar sesuai setandar pelayanan.

“Tugas dan kewajiban pemerintah sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat, KBIHU sebagai mitra Pemerintah maka perlu terus dibina hal itu sejalan dengan Undang-undang No. 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah,” ungkap pria bergelar Doktor Hukum Islam dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini.

Ujang menambahkan, KBIHU yang diakreditasi merupakan KBIHU yang masa berlakunya akan segera berakhir di pertengahan tahun 2020, namun sehubungan adanya pembatalan pemberangkatan ibadah haji akreditasi dilakukan pada Agustus tahun ini.

Keempat KBIHU yang rampung diakreditasi, antara lain KBIHU Kalangsari Cijulang, KBIHU Al-Furqon Cimerak, KBIHU Al-Hidayah Pangandaran, KBIHU Manbaul Huda Padaherang. (Andri Nazaruddin)

Kemenag Pangandaran Terus Kampayekan Moderasi Beragama

Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Pangandaran Dr. H. Cece Hidayat, M.Si.*/Foto: Andri

Kalipucang (Redaksi TadKiroh) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pangandaran, H. Cece Hidayat dalam berbagai kesempatan terus mengkampayekan moderasi beragama.

Kampanye moderasi bergama kali ini disampaikan H. Cece di hadapan guru ngaji pada lembaga pendidikan keagamaan Islam Pondok Pesantren, Diniyah Takmiliyah, dan Taman Pendidikan Al-Qur’an se Kecamatan Kalipucang.

Dikatakan H. Cece, sejak beberapa tahun ke belakang, Kementerian Agama RI telah mengembangan moderasi beragama, meletakkan praktik keagamaan dalam pososi yang tawasut, moderat.

Sikap moderat dalam beragama lanjut Cece, menyampaikan ajaran Islam yang mampu memberikan kesejukan kepada umat, tidak mudah mengkafirkan dan menyalahkan orang lain dan tidak menganggap ajaran yang diyakininya sebagai ajaran paling benar.

“Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama telah mengeluarkan sebuah konsep yaitu moderasi beragama, cara menjalankan agama secara moderat, tidak ekstrim tidak mengenal kekerasan, tapi bagaimana melihat Islam yang rahmat lil alamin,” ungkap Cece di Gedung Dakwah Kalipucang, Selasa (11/08).

Oleh karenanya H. Cece mengajak para ulama dan guru ngaji di Pangandaran dapat menyosialisasikan sikap moderasi beragama kepada masyarakat, peran ulama dan guru ngaji kata dia dinilai sangat strategis, sebab ulama dan guru ngaji merupakan ujung tombak dalam meyampaikan pesan pesan agama dan pembinaan kepada umat.

“Di pundak bapak dan ibu semua ada umat yang banyak, oleh karenanya posisi ulama dan guru ngaji sangat strategis dan diperhitungkan oleh semua pihak,” tuturnya.

“Posisi ulama, kyai dan pimpinan lembaga pendidikan agama tidak bisa dianggap remeh, para ulama adalah warasatul ambiya, penerus ajaran rasul dan kita para pimpinan lembaga pendidikan agama dan keagamaan mencetak generasi penurus ajaran islam rahmatan lil alamin di masa yang akan datang. Mari bersama-sama dengan kami, mengajarkan moderasi beragama,” ungkap pria yang pernah menjadi wartawan di salah satu media ternama di Jawa Barat.

Cece juga menambahkan ulama dan guru ngaji diharapkan dapat membawa pesan kesejukan di tengah masyarakat sehingga dapat merawat harmonisasi dalam dakwah Islam.

“Harus kita pikirkan bersama-sama agar kita ini menjadi orang yang benar-benar memberikan kekuatan kepada umat, menjadi perekat umat, membangun kebersamaan yang harmoni di tengah masyarakat,” ujarnya.

“Tugas pokok kita sebagai ulama, guru ngaji bagaimana menjaga kebersamaan keharmonisan ditengah-tengah masyarakat yang ujung-ujungnya menjaga masyarakat selamat di dunia dan akherat,” tutupnya. (Andri Nazaruddin)

H. Cece Hidayat : Ulama Jangan Alergi Politik

Langkaplancar (Redaksi Tadzkiroh.com) Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kab. Pangandaran H. Cece Hidayat mengatakan, ulama dan santri tidak boleh alergi berpolitik, wajib berpolitik untuk mewujudkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kiyai tidak boleh alergi politik, para ulama harus ikut terlibat dalam proses politik,” kata Cece dalam Silaturahim dengan para ulama dan guru ngaji Se-Kecamatan Langkaplancar di MTsN 3 Langkaplancar, Kamis (8/8/2020).

Menurut H. Cece sangat dibutuhkan sosok kiyai dan santri yang berada di legislatif agar mereka punya keberpihakan kepada umat dan kepada lembaga pendidikan keagamaan Islam, sehingga keberadaanya akan memberikan manfaat dari proses politik.

“Kalau nanti kedepan kita memiliki para legislator, para pemimpin yang berasal dari kalangan ulama dan santri maka tidak khawatir lagi akan ada keberpihakan yang besar pada lembaga-lembaga pendidikan keagamaan, tetapi sebaliknya kalau para ulama alergi politik jangan salahkan kedepan lahir para pemimpin bangsa yang tidak akan berpihak pada lembaga keagamaan dan agama,” imbuhnya.

Menurut Cece para ulama, santri-santri dan perlu belajar siyasah (politik) untuk meraih kekuasaan, karena kekuasaan dapat digunakan sebagai alat untuk menerapkan kebijakan.

“Ajarkan santri tentang siyasah kenegaraan, lahirnya UU Nomor : 18 Tahun 2019 tentang Undang-Undang Pondok Pesantren merupakan hasil proses politik di parlemen,” ungkap pria kelahiran Sumedang ini.

Oleh karenanya kembali ia tegaskan ulama tidak boleh alergi berpolitik, tapi justru ikut didalamnya terhadap proses politik, agar politik itu benar-benar diwarnai dengan politik islami.

“Dalam negara itu ada pemerintah ada eksekutif, yudikatip, legislatif,
ke 3 komponen ini menjadi sebuah keharusan dalam sebuah pemerintahan,” tuturnya.

Dia menyakini terlibatnya ulama pada politik praktis tidak akan kehilangan karisma seorang kiyai selama mereka berlaku jujur, amanah.

“Tidak akan kehilangan marwah sebagai kiyai, justru kiyai di dalam legislatif akan membawa nuansa yang sangat bagus menjadi penguat terhadap penguatan kepada yang lainnya,” tegasnya. (Andri Nazaruddin)

H. Cece : Ulama Harus Manfaatkan Medsos sebagai Media Dakwah

Langkaplancar (Redaksi Tadzkiroh) Saat ini dunia sedang menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang tidak bisa dicegah kedatangannya. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi pemuka agama diharapkan dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana media alternatif dakwah dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat.

Hal demikian dikatakan Kepala Kemenag Kab Pangandaran H. Cece Hidayat dalam acara pembinaan guru/ustadz pada lembaga keagamaan Islam se-Kecamatan Langkaplancar di MTsN 3 Pangandaran, Kamis (05/08).

“Berarti pola kita harus ditambah, sekarang ini dakwah tidak lagi cukup hanya dilaksanakan di dalam pertemuan-pertemuan secara langsung namun bukan berarti menghilangkan dakwah di majelis taklim, masjid dan mushola,” tuturnya.

Ia mendorong para guru/ ustadz agar lebih intens menambah metode dakwah melalui media sosial, sehingga jangkauan dakwahnya lebih luas diterima umat dan menjangkau generasi milenial.

“Perkembangan jaman semakin maju, dan tidak semua anak-anak belajar di pesantren, maka tantangan kedepan dakwah kita akan semakin berat,,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, perkembangan zaman di era disrupsi, dakwah tidak lagi terbatas pada dakwah bil lisan dan bil hal, namun demikian penyampaian dakwah dapat dikembangkan lewat teknologi informasi.

“Sekarang ini semua orang dipaksa termasuk juga kalangan pendakwah dipaksa dengan kecanggihan IT, keberpihakan ulama terhadap kecanggihan teknologi informasi harus didukung juga dengan kemampuan, oleh karenanya kita semua berkewajiban melahirkan calon-calon pendakwah yang punya kemampuan di bidang IT,” imbuhnya.

Oleh karennya ia berharap guru/ ustadz harus merespon terhadap perkembangan jaman teknologi ini, agar seluruh pendakwah menguasai juga teknologi dan menggunakan media social sebagai media dakwah, terlebih di tengah situasi Pandemi.

“Namun umat juga harus tahu sosok pendakwah yang menyampaikan pesan agama itu siapa, jangan sampai tidak mengetahui sosok pendkwah yang profesional atas dasar ilmu dan telah dikenal masyarakat,” katanya.

Ia mengapresiasi atas gerak, hikmat, upaya pengorbanan tenaga dan pikiran bahkan harta yang dimiliki para guru/ ustadz untuk pengembangan agama Islam.

“Tugas para ulama dan kiai tidak akan langsung terlihat wujudnya tapi luar biasa dampaknya terhadap penguatan iman dan taqwa dan dapat dirasakan oleh kita semua, anak-anak menjadi sholeh itulah karya para kiai,” tutupnya. (Andri Nazaruddin)

Jelang Pilkada Kab. Pangandaran, Ka kankemenag Ajak Ulama Jaga Ukhuwah Umat

Cigugur (INMAS Pangandaran) — Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Pangandaran akan digelar pada bulan Desember mendatang.

Menghadapi hal ini, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Pangandaran, H. Cece Hidayat berpesan kepada para ulama untuk mengedepankan ukhuwah dan tidak mudah terpecah belah hanya karena perbedaan aspirasi menjelang Pilkada.

“Janganlah karena perbedaan sikap politik umat terpecah-belah, apalagi saling berseteru antar sesama saudara sendiri” kata Cece dalam acara pembinaan guru/ ustadz pada lembaga keagamaan Islam se-Kecamatan Cigugur di Aula Desa Cimindi, Rabu (04/08).

H. Cece mengatakan bahwa menjelang pemilihan kepala daerah masyarakat dihadapkan pada perbedaan. Namun demikian, ulama dan umat tak boleh terpecah namun tetap menjaga rasa saling menghormati. Dengan itu, persaudaraan tetap bisa terjaga dengan baik.

“Ulama tidak boleh terpecah-belah, Jangan sampai terpecah gara-gara dukung mendukung, tapi silahkan bapak ibu semua punya pilihan dan itu hak politik masing-masing,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga berpesan agar para ulama mengerakkan umat turut serta menggunakan hak pilihnya dengan baik dan memilih pemimpin yang amanah.

“Jaga keamanan dan kenyamanan, mari kita bersama-sama ajak umat yang punya hak pilihnya datang ke TPS,” imbuhnya.