Beranda Daerah Cegah PMK, MUI Kab. Pangandaran dan Kemenag Gelar Rakor Persiapan Qurban

Cegah PMK, MUI Kab. Pangandaran dan Kemenag Gelar Rakor Persiapan Qurban

Parigi (Redaksi Tadzkiroh.com) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Pangandaran dan Kantor Kementerian Agama dan menggelar rapat koordinasi berkaitan dengan persiapan jelang pelaksanaan Ibadah Qurban 1443H / 2022M di tengah berkembangnya penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Pangandaran H. Supriana mengajak semua pihak ikut terlibat melakukan berbagai upaya seperti mengedukasi masyarakat agar tidak menimbulkan kekhawatiran, sekaligus juga memastikan hewan qurban tetap sehat dan memenuhi syarat sah khususnya dari segi kesehatan sesuai standar yang ditetapkan.

“Kementerian Agama tentu punya kepentingan untuk memastikan kenyamanan bagi umat islam dalam melaksanakan ibadah baik itu shalat Idul Adha maupun kegiatan penyembelihan hewan qurban,” tuturnya di Woody Vila Parigi, Senin (04/07).

Sekretaris Umum MUI Kab Pangandaran, H. Hilman Saepullah mengatakan, rakor yang melibatkan Dinas Peternakan, Polres, Para Pimpinan ormas islam, Ketua SQB Kab. Pangandaran, Ketua MUI Kecamatan Se-Kab. Pangandaran merupakan bentuk tindak lanjut dari terbitnya Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor : 32 Tahun 2022 juga hasil Rakor MUI di tingkat Provinsi pada tanggal 8 Juni 2022.

“MUI telah mengeluarkan Fatwa Nomor : 32 Tahun 2022, fatwa ini sebagai Panduan dalam Pelaksanaan Ibadah Qurban saat wabah PMK” tuturnya.

Sementara itu Kasat Binmas Polres Pangandaran AKP Didi Sutardi menyatakan pihaknya akan terus melakukan upaya agar tidak menimbulkan keresahan dan kekhawatiran di tengah masyarakat.

“Sebelumnya kami juga sudah melakukan sosialisasikan kepada para penjual hewan ternak,” jelasnya.

Didi mengatakan upaya selanjutnya pihaknya akan memberlakukan pemeriksaan di semua pintu masuk ke wilayah Pangandaran juga akan membentuk satgas khusus penangan PMK.

“Tidak perlu khawatir tetapi harus waspada saling mengingatkan, saling mensosialisasikan. Intinya kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memberikan situasi aman dan nyaman kepada warga masyarakat Pangandaran menjelang perayaan Idul Adha nanti,” tuturnya.

Sementara berdasarkan data Dinas Pertanian Kab. Pangandaran diketahui jumlah ternak positif PMK tercatat ada sebanyak 230 hewan ternak dengan rincian Kecamatan Cigugur sebanyak 23 ternak, Cijulang 122, Cimerak 8, Kalipucang 14, Pangandaran 24, Parigi 1, Sidamulih 38 m.

drh. Rosania  Khoeriyah (Dinas Pertanian) menjelaskan bahwa  daging sapi yang terjangkit wabah PMK masih bisa dikonsumsi, tetap aman, namun perlu pendekatan teknis dan prosedur tertentu.

“Tidak ada masalah dengan dagingnya, dagingya bisa dimakan, aman untuk kita aman untuk manusia, ” paparnya.

Rosania menjelaskan Penyakit mulut dan kuku hanya menyerang hewan ternak, jadi tidak akan  menularkan kepada mansuisa hanya saja manusia bisa menjadi agen penyebaran virus.

“Ke manusia tidak menularkan, tapi bisa menularkan melalui manusia. Misalnya panitia qurban menyembelih hewan qurban yang bergejala PMK setelah itu mereka pulang tanpa mandi dan bersih bersih terlebih dahulu ke rumah, di  rumahnya memiliki ternak sapi bisa saja tertular,” katanya.

Guna pencegahan penyebaran virus PMK, ia menghimbau kepada para panitia qurban di masjid dan mushola untuk memperhatikan kebersihan personil penyembelihan dan pembagian daging qurban, selain itu ia juga menyarankan agar pemotongan hewan qurban jauh dari kandang ternak lain.

Berikut tips yang dibagikan Dinas Pertanian Kab. Pangandaran untuk konsumen rumah tangga terkait dengan daging dan susu pada saat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) bukan zoonosis artinya tidak dapat menular atau menginfeksi ke manusia. Jadi mengonsumsi daging dan susu yang telah dimasak dengan benar aman dan sehat.

Berikut tips yang dibagikan Dinas Pertanian Kab. Pangandaran untuk konsumen rumah tangga terkait dengan daging dan susu pada saat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) bukan zoonosis artinya tidak dapat menular atau menginfeksi ke manusia. Jadi mengonsumsi daging dan susu yang telah dimasak dengan benar aman dan sehat.

1. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) bukan zoonosis artinya tidak dapat menular atau menginfeksi ke manusia. Jadi mengonsumsi daging dan susu yang telah dimasak dengan benar aman dan sehat.

2.Daging dan jeroan yang diperoleh, sampai di rumah jangan dicuci agar jika terdapat cemaran virus pada daging dan jeroan maka virus tidak mencemari lingkungan melalui air cucian.

3.Daging harus langsung dimasak dengan merebus pada air (kuah) yang mendidih selama minimal 30 menit atau dinginkan, lalu bekukan jiga daging tidak langsung dimasak atau akan disimpan di freezer maka daging Bersama kemasan disimpan terlebih dahulu pada suhu dingin (Chiller) minimal 24 jam di kulkas atau diolah.

4.Pastikan memilih jeroan yang sudah direbus atau jika jeroan masih mentah, rebus dahulu dalam air mendidih selama 30 menit sebelum disimpan.

5.Susu (sapi atau kambing) harus dimasak mendidih minimal 5 menit sambil diaduk perlahan (supaya tidak ada bagian yang hangus di dasar panci),

6.Talenan, pisau, wadah yang kontak dengan daging dan jeroan mentah harus dicuci dengan deterjen.

7.Kebersihan tangan dan tempat sebelum, selama, dan setelah menangani daging dan jeroan atau memasak harus senantiasa dijaga.

8.Bekas kemasan daging tidak langsung dibuang, rendam dahulu dengan detergen/pemutih pakaian, cuka dapur untuk mencegah cemaran virus ke lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here