Beranda Artikel Makna di Balik Perintah Puasa

Makna di Balik Perintah Puasa

65
0

Bulan suci Ramdhan telah tiba kepada kita dengan membawa kabar gembira dan kebaikan. Di bulan ini, jiwa kita siap untuk disucikan dan dibersihkan. Hawa nafsu yang selama ini memperbudak kita selama bertahun-tahun melalui keinginan dan ambisinya, seringkali kita tidak mampu lepas dari kendalinya. Maka tibalah bulan suci Ramdhan sebagai sarana untuk melatih diri mengendalikan hawa nafsu. Yaitu menahan diri dari makan, minum dan segala hal yang dapat membatalkan dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.

Makan dan minum merupakan kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia untuk tetap bertahan hidup. Kemudian datang sebuah perintah untuk berpuasa, menahan diri dari makan dan minum yang mana keduanya merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Kebutuhan primer harus dipenuhi agar agar manusia dapat bertahan hidup. Jika kebutuhan tersebut tidak dipenuhi maka akan mengancam nyawa manusia. Ketika Allah turunkan sebuah perintah untuk berpuasa, perintah tersebut memiliki makna berupa sindiran yang seakan-akan  ditunjukkan kepada diri kita, “Wahai hawa nafsu, kamu mampu meninggalkan makan dan minum yang mana keduanya dibutuhkan agar tetap bertahan hidup. Kemudian kamu beralasan bahwa kamu tidak mampu melaksanakan perintah Allah yang mana perintah itu tidak sama sekali mengancam jiwa, justru perintah tersebut sesuai dengan fitrah manusia”. Terdapat  pelajaran (dars) yang dapat diambil dari perintah Allah SWT untuk berpuasa, bahwa pada hakikatnya manusia mampu melaksanakan perintah Allah secara utuh (kaffah). Sebuah pelajaran yang dapat membangunkan hati manusia dari kelalaian atas perintah Allah, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak melaksanakan perintah Allah SWT.

Bulan suci Ramdhan merupakan anugerah bagi kita selaku umat nabi Muhammad SAW. Sejak  dimulainya bulan puasa, hati kita dituntun untuk terbebas dari hijab. Yaitu kegelapan yang menyelimuti hati sebagai penyebab terhalangnya cahaya yang masuk ke dalam hati. Hijab yang dimaksudkan adalah maksiat yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya upaya taubat (kembali kepada Allah). Yaitu maksiat yang kaitannya dengan manusia, seperti sombong, dengki, marah dan lainnya. Kegelapan ini lah yang kerap menyelimuti hati manusia. Maka datanglah bulan suci Ramdhan sebagai sarana untuk membersihkan hati kita dari penyakit-penyakit tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali:

وأن مقصوده تصفية القلب وتفريغ الهم لله عز وجل

 “Dan tujuan puasa adalah membersihkan hati serta berserah diri kepada Allah”

Penulis Ust. Ahmad Kholiludin, MH (Pengajar pada Pondok Pesantren Al-Furqon Cimerak Pangandaran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here