Beranda Opini Mencari Sosok Pemimpin Ideal

Mencari Sosok Pemimpin Ideal

26
0

Sebenarnya ada apa dengan 2024? sejak saat ini semua orang memperbincangkan angka itu, mungkin bagi kita itu hanya sebatas angka, tetapi bagi sebagian orang angka itu sangat berarti sekali, banyak orang yang akan menggantungkan hidupnya pada tahun itu. Bahkan mungkin bagi semua rakyat Indonesia, mengingat tahun itu adalah tahun politik, tahun pertarungan kekuasaan.

Atmosfer politik untuk 2024 sudah berasa dari sekarang, dari daerah sampai pusat, dipinggir jalan sudah banyak baliho-baliho calon bupati hingga calon presiden dengan segala jargon dan visi misinya yang melangit. Dibeberapa daerah para relawan juga sudah mendeklarasikan diri untuk mendukung salah satu kandidat presiden. Pertanyaanya mau kemana sih kok buru-buru, Apakah sudah yakin bisa jadi pemimpin ideal atau pura-pura memimpin saja?

Jika melihat situasi politik beberapa tahun kebelakang dari mulai Pilkada hingga Pilpres bagi saya cukup menegangkan. Karena tahun itu selalu riuh, gaduh, bising, bahkan sangat mengerikan, dimana para politisi kita menyuguhkan akrobat-akrobat politik yang sangat membahayakan, membuat para penonton tegang bahkan tak mau lagi menonton pertunjukan tersebut, apalagi terlibat dalam percaturan politik.

Sebagai contoh dapat kita lihat di media sosial begitu mudahnya menyalahkan, menuduh sesat, menyebar kabar hoaks bahkan menggunakan politik identitas dan politisasi agama sudah menjadi hal yang lumrah untuk mendulang suara. Berdasarkan penelitian Zuhro (2019) adanya kemunculan isu dari sebagian umat islam yang merugikan mereka yang pada akhirnya melahirkan ijtima ulama, yang merekomendasikan kepada Prabowo Subianto untuk memilih calon wakil presiden hasil ijtima para ulama yang memunculkan beberapa nama yaitu Salim Segaf Al-Jufri ketua dewan syuro PKS dan Ustad Abdussomad untuk menjadi wakil presiden Prabowo.

Sementara disisi lain ijtima tersebut ditentang, dianggap tidak merepresentasikan suara umat islam. Untuk itu sekitar 400 kiai dan pengurus pesantren seluruh Indonesia mengadakan pertemuan dan menyatakan mendukung pasangan capres dan cawapres Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin. Selain itu muncul juga isu PKI yang menyerang kedua belah pihak baik Prabowo maupun Jokowi.

Kejadian diatas merupakan salah satu contoh kecil dari prilaku politik yang cukup berbahaya bagi kesatuan dan persatuan bangsa kita. Isu semacam ini sangat sensitive sekali dimasyarakat tidak hanya dikalangan elite, melainkan juga ditingkatan lokal pedesaan. Polarisasi terlihat kentara dimasyarakat dan dapat menimbulkan perpecahan antar saudara sebangsa, bahkan seiman,  dampaknya bisa kita rasakan sampai hari ini. Padahal politik bukan segalanya, ada yang lebih penting daripada politik yaitu kemanusiaan “Gusdur”.

Menjadi seorang pemimpin ideal bukanlah perkara mudah, nggak cuma modal duit, kedekatan, popularitas apalagi modal tampang doang, kayak nyari bintang iklan saja. Untuk menjadi seorang pemimpin harus ada proses-proses yang dilalui, nggak ujug-ujug. Seorang pemimpin harus digodok di kawah candradimuka, sebuah istilah yang dipakai dalam kisah pewayangan yaitu tempat dimana Gathot Kaca gigembleng agar menjadi seseorang yang kuat dan sakti mandraguna yang nantinya dipersiapkan untuk menumpas segala bentuk kebathilan dan menegakan keadilan demi terciptanya negeri yang aman dan damai.

Begitu pula dalam kisah nyata, seorang pemimpin haruslah digembleng agar dapat menghadapi berbagai medan tempur yang terjadi dalam percaturan politik dan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini, yang paling penting adalah dapat menyelamatkan rakyatnya dari berbagai persoalan yang sangat-sangat klasik yang dapat menyengsarakan rakyat, semisal korupsi yang saat ini sangat marak dilakukan oleh para kepala daerah.

Seorang pemimpin tidak boleh bisa diintervensi oleh pihak manapun, namun juga ia tidak boleh anti kritik. Selanjutnya kita ini butuh pemimpin yang memiliki daya gembala atau dalam istilah jawanya cah angon, orang yang ngemong semua pihak tanpa membeda bedakan suku, agama, dan golongan tertentu. Kita butuh sosok pemimpin yang secara lantang mengatakan saya adalah pemimpin bagi semua golongan, saya adalah pelayan bagi seluruh rakyat, bukan pemimpin yang sok merakyat ketika momentum politik saja, tapi kenyataanya berkongsi dengan para konglomerat, dan kebijakan kebijakannya menjerat yang ujung-ujungnya menyengsarakan rakyat.

Terakhir yang terpenting adalah calon pemimpin yang dapat memberikan teladan bagi semua, bukan pemimpin yang cuma bisanya ngomong doang, merintah doang, tapi sikapnya berlawawanan. Kita bisa meneladani beberapa tokoh dunia seperti Nelson Mandela, Mahatma Ghandi, dan tokoh-tokoh dunia lainnya yang banyak prestasi namun hidupnya tetap sederhana dan merakyat.

Di Indonesia sendiri kita dapat meneladani KH. Abdurrahman Wahid atau kita kenal Gusdur, presiden yang selalu lantang membela kemanusiaan dan memperjuangkan sistem demokrasi yang sehat. Gusdur tidak gila harta,  Gusdur tidak gila popularitas, bahkan belia tidak gila jabatan. Saat orang-orang mencoba melengserkannya melalui cara yang inkonstitusional kemudian ribuan orang bahkan mungkin jutaan diberbagai daerah ingin membela Gusdur, beliau dengan enteng mengatakan jangan sampai hanya karena urusan jabatan, pertumpahan darah antar sesama putra bangsa terjadi di ibu kota.

Beliau lebih rela mengorbankan jabatannya walaupun itu inkonstitusional dan penuh fitnah, dengan kasus-kasus yang sampai saat ini tidak pernah terbukti dimata hukum, namun beliau lebih sayang kepada bangsa ini, daripada pertumpahan terjadi dimana-mana karena urusan kekuasaan yang tidak seberapa. Tidak mudah memang mencari sosok pemimpin yang ideal menurut kita, namun paling tidak kita mempunyai gambaran. Bahwa paling tidak calon pemimpin pilihan kita kedepan harus berjiwa kesatria seperti Gathot Kaca, menaungi semua golongan, tidak menghalalkan segala cara demi sebuah kekuasaan, dan yang paing penting adalah memberi teladan yang baik.

Penulis : Fahmi Muhammad Pengajar di STITNU ALFARABI Pangandaran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here