Beranda Artikel Seorang Da’i Mesti Berkorban, Mengupas Hikmah Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah

Seorang Da’i Mesti Berkorban, Mengupas Hikmah Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah

129
0

Tujuan mempelajari riwayat perjalanan hidup Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallah bukan  semata  mengetahui kejadian sejarah atau kisah-kisah menarik dari Rasulullah. Akan tetapi ada yang lebih substansial dari itu, mesti berjalan lebih jauh lagi hingga akhirnya terlihat sudut pandang lain. ketika anda melihat suatu benda dari dekat, maka benda itu terasa besar dan dirasa cukup memuaskan. Tapi ketika anda terus berjalan dan melihatnya dari kejauhan, maka akan timbul sudut pandang lain.

Hijrah umat muslim dari Mekkah ke Madinah  terjadi setelah datangnya perintah dari Allah SWT. Ketika para sahabat mengadu kepada Rasulullah atas kekejaman kafir Quraisy Mekkah, akhirnya Rasulullah mengisyaratkan untuk hijrah ke Madinah. Dalam upaya hijrah itu, tempat pertama yang disinggahi Rasulullah adalah gua Tsur tepatnya 2 Rabiul Awwal / 20 September 622 M.

Cobaan pertama yang dialami umat muslim saat itu adalah kekejaman dan siksaan kafir Quraisy, siksaan yang tak pernah dilakukan sebelumnya oleh kafir Quraisy. Lalu cobaan selanjutnya saat Rasulullah mengizinkan untuk hijrah adalah meninggalkan tempat kelahiran mereka, harta, rumah dan barang-barang berharga lainnya. Akan tetapi iman kuat yang dimiliki umat muslim telah membuat mereka mampu melewati cobaan itu. hijrah dilakukan secera sembunyi agar tidak terlihat dari kejaran kafir Quraisy. Hal itu tidak akan bisa dilakukan kecuali mereka harus meninggalkan barang-barang berharga yang dimilikinya demi menyelamatkan agama serta menunggu pertolongan dari saudara-suadara yang  berada di Madinah.

Pengetahuan sejarah perjalanan Rasulullah tidak terhenti sampai disini. Dari kejadian di atas dapat diambil ibrah bahwa agama serta memeluknya merupakan unsur pokok dari segala kekuatan. Agama merupakan pagar yang melindungi segala hak baik harta, tempat, kemerdekaan dan kehormatan. Maka sudah sepatutnya bagi seorang  da’i  (pendakwah) dan seorang mujahid  untuk mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mejaga agama, bahkan mengorbankan tempat tinggalnya, harta dan  barang berharga untuk menjaga agama. Hingga ketika  datang suatu keadaan yang memaksa ia untuk mengorbankan seluruh, maka ia korbankan.

Jika agama sudah tidak dipertahankan bahkan ia korbankan untuk mempertahankan harta, tempat dan barang berharga lainnya, maka jangan mengira semuanya akan berarti dalam kehidupannya, hingga akhirnya tinggal menunggu waktu dan ia  akan lenyap. Sebaliknya jika agama sudah tertanam dengan kokoh dan kuat dalam hati umat muslim, maka apapun yang ia korbankan dalam menyebarkan dan mempertahankan agama baik harta, tempat tinggal dan barang berharga lainnya,  pasti akan kembali, bahkan  akan lebih dari sebelumnya.

Dan telah terbukti sunnatullah (ketetapan Allah) dalam banyak sejarah, bahwa kekuatan dan kejayaan suatu umat adalah berdasarkan kekuatan ma’nawi yaitu kekuatan iman. Barangkali anda melihat suatu umat yang melenceng akidahnya yang jauh dari norma-norma agama dan bobrok akhlaknya, akan tetapi dengan keadaanya yang seperti itu dapat berdiri kokoh dalam sisi kekuatan materinya. Padahal  dalam kenyataan sesungguhnya semua itu akan lenyap dan hancur, karena mereka tidak merasakan akan bergulirnya waktu yang begitu cepat, bahwa mereka hanya tercatat dalam sebagian dari panjangnya sejarah melihat umur manusia yang begitu cepat dibandingkan lamanya sejarah. Keberadaan mereka hanya tinggal sejarah hanya menyisakan sebuah cerita untuk menjadi ‘ibrah.

Dengan demikian, seorang da’i tau apa yang mesti ia lakukan, mengorbankan segalanya demi mempertahankan agama serta menyebarkannya. Agama adalah pondasi yang kuat, jika suatu bangunan dibangun di atas pondasi yang kuat maka sebesar apapun bencana yang datang ia akan tetap berdiri kokoh. sebaliknya jika suatu bangunan dibangun di atas pondasi yang lemah, cepat lambat ia akan runtuh dengan sendirinya. Sebagaimana dalam hikam athaiyyah :

إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ عِزٌّ لَا يَفْنَى فَلَا تَسْتَعِزَّ بِعِزٍّ يَفْنَى

“Jika engkau menghendaki kemuliaan yang abadi, jangalah engkau mencari kemuliaan yang sementara”

Penulis : Ustad Ahmad Kholiluddin, S.H.I (Pengajar di Pondok Pesantren Al-Furkon Cimerak Kab. Pamgandaran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here